Dipilihkan

Dipilihkan

Tulisan berikut mungkin agak sedikit curhat tentang beberapa pengalaman pribadi, yang kini membentuk kumpulan nukilan kisah.

Dulu setiap rencana dan keinginan saya tak pernah ada yang dikabulkan Tuhan. Tak satupun rencana yang (bahkan saya siapkan semenjak SMP) bisa tercapai. Kenapa? Karena usahanya kurang? Saya rasa sama sekali tidak. Ketika SMP saya berencana setelah lulus akan masuk ke SMK saja jurusan akuntansi agar ketika lulus bisa langsung bekerja. Eh, ternyata masuk SMK itu ribet dan susah, akhirnya diajak daftar SMA 1 Wonosobo dan diterima. Yasudah, jalani saja. Waktu masuk SMA, pada saat penjurusan masuk IPS saja, karena berencana melanjutkan ke STAN. Eh ternyata direkomendasikan masuk IPA di rapor, akhirnya masuk IPA *padahal itu cuma rekomendasi*. Yasudah, jalani saja.  Ketika sudah mau lulus SMA,  rajin sekali belajar soal STAN. Lalu secara random daftar UI, dan diterima. Yasudah, jalani saja dulu. Hingga waktu itu, keinginan masuk STAN sudah pupus tak berbekas.

Setelah menjalani masa kuliah di kampus, saya mulai merasakan bahwa nikmat dari-Nya sungguh luar biasa. Akhirnya, setelah 18 tahun hidup di kota kecil bernama Wonosobo, saya diberi kesempatan untuk jauh dari rumah, yang mana dulu saya menganggap sekolah di SMA 1 itu sudah jauh (ya rumah saya di Kertek dekat pasar, hehe). Jauh dari rumah ternyata memberi saya banyak pelajaran berharga. Saya baru sadar, rupanya doa saya selalu dikabulkan oleh Allah. Kata seseorang melalui sebuah buku, doa itu selalu dijawab “iya” kok sama Allah: “ iya dan boleh”, “iya tapi bukan yang ini”, atau “iya dan nanti dulu”. Mungkin yang saya dapatkan adalah “iya tapi bukan yang ini” (bukan yang kita harapkan). Tapi justru yang bukan diharapkan itu lah, yang terbaik. Wait for the time to speak by its self, in its best moment. Ini namanya dipilihkan.

Semasa kuliah, berkali-kali mengunjungi Jakarta telah membuat saya sadar bahwa banyak sekali hal baik yang ada disini, tapi tak ada di Wonosobo. Banyak sekali ilmu yang ada di sini, tapi kapan ya bisa disalurkan di sana. Banyak sekali teman-teman bertalenta serta punya cita-cita mulia di sini, tapi kapan ya Wonosobo juga punya banyak orang kayak begitu. Kapan yah hal-hal baik yang saya dapatkan di sini, bisa diterapkan di sana. Nunggu jadi Bupati dulu? Kelamaan, dan itu juga bukan cita-cita saya xD.

Selain hal-hal baik, ada juga yang saya tidak suka dengan berada di Jakarta, yaitu urbanisasi. Semua orang mencari nafkah di sini, ya memang wajar sih hehe. Soalnya pusat pemerintahan, pusat bisnis, dan pusat dunia hiburan semuanya ngejublek (kumpul jadi satu) di sini. Semua orang berpendidikan tinggi juga fokusnya ke sini. Orang yang kuliah di luar Jakarta, yang di Jakarta, yang lulusan SMA, SMK, semua datang ke Jakarta karena bingung mau kerja apa di kampung halaman. Bahkan suatu kali dalam perjalanan saya dengan bus menuju Jakarta, saya bertemu dan ngobrol dengan anak yang baru lulusan SMA, dan mau kerja di Jakarta, sebagai asisten rumah tangga. Rasanya langsung maknyess, ya Allah beruntung banget yang bisa kuliah. Lalu, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka? Lalu, kalau semua orang berkumpul di Jakarta Raya ini, siapa yang akan peduli pada orang-orang di luar sana, yang mana akses informasinya  terbatas?

Dan lagi, saya merasa dipilih menjadi orang yang bisa bertemu dengan sosok bernama Goris Mustaqim. Beberapa kali (cuma dua kali sih) saya ikut seminarnya di FEUI. Saya mulai memahami, ternyata keresahan yang saya ceritakan di paragraf atas, telah berhasil dijawab dengan beberapa hal yang sudah beliau lakukan di daerah asalnya, Garut. Beliau mempunyai yayasan dan serangkaian usaha di bidang pendidikan dan ekonomi untuk memajukan Garut tercintanya. Saya punya semacam niatan untuk membuat seperti itu. Tapi entah kapan dan dengan siapa.

Bulan Januari 2014, saya diajak diskusi secara tiba-tiba oleh seorang teman saat acara try out di sebuah gedung terbesar di Wonosobo. Awalnya tentang, ‘bisa gak bikin web’. Hm ‘kayaknya bisa, hahaa’. Sejak saat itu entah kenapa saya sadar, saya dipilihkan untuk kuliah di tempat saya sekarang, dengan jurusan yang ini pula.  Akhirnya obrolan berlanjut ke akhir April, dan mengajak satu orang lain yang juga punya pandangan sama, tentang : kita mesti bikin sesuatu, di mana kita bisa menyalurkan ide-ide kita untuk tanah kelahiran. Ngapain kita kuliah jauh, mencari ilmu, jika akhirnya tidak ada satupun ilmu dan gagasan yang sampai ke tanah kelahiran kita, sampai ke masyarakat di sana. Paling tidak ada wadah untuk anak-anak muda Wonosobo, yang berada dimanapun, agar bisa melakukan sesuatu untuk daerah asalnya.

Resmi, sejak akhir April 2014 di sebuah kedai kopi, lahirlah gagasan untuk membuat sebuah langkah, yang dimulai dari website dan beberapa akun sosial media, untuk mengajak orang-orang daerah, agar peduli pada daerahnya. Kemudian tim kami bertambah dua orang lagi untuk membantu beberapa hal teknis. Sayangnya, tanggal 7 Juli 2014, launching website yang kami gadang selama beberapa bulan, batal. Haha. Ada masalah teknis, dan waktu itu saya mau sidang skripsi. Jadinya ditunda, tanggal 9 Juli baru launching. Awalnya saya pribadi sempat khawatir, apakah ini akan disambut atau tidak. Tapi Allah Maha Mengapresiasi apa yang hambaNya telah lakukan. Banyak sambutan positif, terharuu sekali :”)

Sejak itulah, resmi hampir setiap weekend waktu saya tersita secara membahagiakan, nongkrong-nongkrong, bahas ini itu, demi terus menghidupkan apa yang sudah direncanakan di awal. Memang tidak mudah, tapi jika terus dinikmati, ternyata menjadi perjalanan yang menyenangkan :”)

Melalui perjalanan Wonosobo Muda inilah, saya bisa banyak belajar hal yang akan berguna seumur hidup saya. Tentang semangat yang tak pernah berakhir, tentang ketulusan berjuang dan memberi, tentang menghargai perbedaan, tentang perbedaan yang sesungguhnya jika dibungkus dengan kesamaan tujuan bisa begitu menyenangkan, tentang belajar membuat keputusan, tentang sebuah keyakinan dalam berbuat baik, tentang memahami kekurangan diri sendiri, tentang menyadari kelebihan diri, dan tentang bahagianya menjadi diri sendiri.

Saya juga semakin sadar, di mana pun nanti jiwa raga saya akan berlabuh, ada yang harus tetap pulang ke tanah kelahiran saya, entah itu pikiran, gagasan, atau materi.

Dan kini saya mengerti, inilah jawaban Tuhan atas apa yang saya minta semasa SMP. “Iya, tapi bolehnya jalan yang ini yaa…” Duh, bisa apa lagi aku selain bersyukur 🙂

Khafidlotun Muslikhah

Depok, 27 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *