BUKAN KOPDAR BIASA (KOPDAR AKBAR WONOSOBO MUDA)

BUKAN KOPDAR BIASA (KOPDAR AKBAR WONOSOBO MUDA)

Kopi darat hmmm….istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kopi darat atau biasa disebut kopdar artinya suatu pertemuan dengan orang yang belum dikenal sebelumnya. Nah, pada hari Minggu 25 Januari yang lalu diadakan Kopdar Akbar Wonosobo Muda. Disini seluruh member Wonosobo Muda kurang lebih 70 orang dari berbagai regional dipertemukan. Ada regional Jabodetabek, Jogjakarta, Semarang dan Wonosobo tentunya.

Mungkin sebagian besar anak-anak Wonosobo mengenal Wonosobo Muda hanya sebuah akun social media di twitter, facebook, path, dan portal website biasa. Padahal akun-akun di social media tersebut hanyalah salah satu wujud gerakan dari Wonosobo Muda. Wonosobo muda adalah suatu komunitas anak muda Wonosobo yang berasal dari berbagai kalangan yaitu mahasiswa, pelajar, entrepreneur, dll. Komunitas Wonosobo Muda awalnya dibentuk dari keprihatinan terhadap kaum muda bangsa Indonesia, khususnya Wonosobo. Seperti yang telah kita ketahui saat ini para putra terbaik Wonosobo berbondong – bondong pergi ke Ibukota atau kota besar lainnya dan tidak kembali lagi ke daerah asal. Kalau hal ini terus terjadi, lalu siapa yang akan membangun daerah? Kapan Indonesia maju jika hanya Ibukota saja yang berkembang. Padahal potensi, keunikan serta kerarifan lokal perlu dikembangkan dan dilestarikan

kopdar1

Dengan semangat membangun daerah, Wonosobo Muda mencoba melakukan gerakan kreatif dan kolaboratif. Wonosobo Muda mencoba untuk menginspirasi dan memberdayakan potensi anak muda Wonosobo. Untuk mewujudkan gerakan perubahan ini, Wonosobo Muda terbagi menjadi beberapa divisi yang sesuai dengan isu-isu dan realita permasalahan di Wonosobo. Divisi-divisi tersebut adalah; pendidikan, ekonomi kreatif, pertanian & lingkungan hidup, kebijakan publik, desain & media kreatif, serta komuikasi publik. Divisi-divisi ini nantinya akan membuat project-project yang akan langsung di terapkan di masyarakat.

Lalu apa aja sih agenda kopdar wonosobo kemarin ini … check this out. Kopdar Wonosobo Muda bukan sekedarkongkow – kongkow gaul saja tapi juga berbobot #eaak. Kopdar yang diadakan di Ruang Diskusi Perpusda Wonosobo ini mengundang para expert yaitu para tokoh hebat asli Wonosobo. Tokoh ini berasal dari berbagai kalangan yaitu: wartawan, pengusaha, aktivis pendidikan, aktivis sosial ,perwakilan Dinas Pendidikan dan Kepemudaan, perwakilan Badan Pemberdayaan Masyarakat & Desa, serta perwakilan Tata Lingkungan Setda. Disini kami melakukan Focus Group Discussion atau disingkat FGD. Dalam diskusi ini para member Wonosobo Muda dibagi menjadi beberapa cluster yaitu; 1)Pendidikan & Kepemudaan, 2)Ekonomi & Kewirausahaan, 3)Pertanian & Lingkungan Hidup, Kebijakan Publik, 4)Media & Komunikasi. Dalam sesi FGD ini setiap cluster berdiskusi dengan para expert yang ahli dalam setiap bidang sesuai cluster. Misalnya di cluster pendidikan, diskusi di mentori oleh Mbak Lintang perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kepemudaan dan Mas Mafruhin, founder Madrasah Tengah Sawah, dalam cluster ini di bahas mengenai permasalahan pendidikan di Wonosobo yang belum merata dan solusinya. FGD ini bertujuan untuk membahas berbagai permasalahan di Wonosobo dari berbagai bidang dan berbagai sudut pandang.

Ternyata banyak sekali isu-isu dan permasalahan di Wonosobo mulai dari bidang pariwisata sampai pertanian. Seperti yang telah kita ketahui wonosobo memiliki potensi yang sangat besar dalam berbagai hal, namun pengelolaan potensi tersebut belum maksimal bahkan masih sangat minim. Potensi wonosobo di bidang paiwisata sudah tidak diragukan lagi, namun sayang nyatanya tamu yang berkunjung di Dieng bagian Banjarnegara mencapai 26.000 orang sedangkan di Wonosobo hanya mencapai 1700 orang. Perbedaan yang sangat timpang ini menunjukkan usaha untuk memajukan bidang pariwisata masih kurang. Bukan hanya potensi pariwisata, wonosobo juga memiliki potensi besar di bidang peternakan. Kualitas susu sapi di Wonosobo, contohnya, ternyata tidak kalah dengan Bandung ataupun Malang. Ironisnya pengolahan susu sapi di Wonosobo masih kurang padahal iklim di Wonosobo sangat mendukung untuk mengembangkan ternak susu sapi perah. Meskipun memiliki potensi alam yang sangat luar biasa, nyatanya Wonosobo menyandang predikat sebagai salah satu daerah termiskin di Jawa Tengah. Tentu saja hal ini menjadi PR besar bagi pemerintah Wonosobo. Padahal menurut penuturan Mbak Dina (Perwakilan dari Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa) total dana yang dialokasikan untuk desa sejumlah 77 milyar, angka yang cukup fantastis tentunya untuk dapat memberikan perubahan pada wajah perekonomian Wonosobo

Itulah sebagian sebagian kecil sekelumit permasalahan di Wonosobo yang muncul ke permukaan selama Kopdar Akbar berlangsung. Kopdar Akbar inilah yang menjadi langkah awal bagi Wonosobo Muda untuk menciptakan project-project inspiratif untuk mengatasi permasalahan di Wonosobo. Harapannya Wonosobo Muda bisa menjadi ujung tombak aksi para kaum muda Wonosobo untuk membangun Wonosobo yang lebih baik lagi. Yah, inilah Wonosobo kota kecil berjuta pesona dan berbagai permasalahan di dalamnya. Kota kecil dengan hawa dingin yang akan selalu dirindukan. Mari berjuang, melangkah bersama membangun Wonosobo yang lebih baik. Yuk, Balik ndeso mbangun deso. (Lida)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *